Kamis, 18 September 2014

Akal Dan Keahlian Bukanlah Jaminan Sukses

 Cukup dikatakan sebagai kesombongan yang sangat besar jika seseorang hanya mengandalkan akal dan ilmunya tanpa melibatkan Allah di dalamnya. Manusia boleh saja merassa bangga terhadap apa yang ada pada dirinya. Misalnya ilmu dan keahlian yang di miliki. Namun sebaiknya kita tetap saja harus mengikut sertakan Allah dalam segala hal. Karena tanpa restu dari allah apapun yang kita lakukan akan sia-sia belaka.
Bukankah kita adalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Salah satu bukti bahwa kita adalah makhluk yang lemah adalah ketidak berdayaan kita menghadapi kehendak Allah seperti kematian. Adakah manusia yang mampu mencegah datangngya ajal. Mampukah manusia mengatur rejekinya sendiri? Maka jawabannya adalah tidak mungkin. Karena ajal, rejeki dan jodoh semuanya adalah rahasia Sang Maha Kuasa. Tidak ada satu makhlukpun yang mampu mengetahuinya. Dan ketika itu terjadi maka tiada satu makhlukpun yang mampu mencegahnya.
Ada sebuah kisah menarik yang bisa kita jadikan pelajaran. Yaitu kisah tentang seorang pilot yang bernama Kapten Abdul Razak. Dia adalah seorang penerbang senior yang telah melanglang buana di dunia pesawat garuda air ways. Suatu ketika dia akan menerbangkan Pesawat Garuda Air Ways dengan jumlah penumpang 150 orang. Dia berangkat dari bandara Selaparan Mataram dan akan menuju bandara Adi Sumarmo Solo.
Setelah di cek semua kondisi ternyata normal. Cuacanya pun sangat mendukung sekali. Awan cerah dan mesin pesawat juga masih dalam kondisi siap terbang. Maka setelah di pastikan, terbanglah sang kapten bersama kru dan 150 penumpang. Pada mulanya suasana terbang aman tanpa kendala apapun. Namun setelah tiga jam berjalan sampailah pesawat di atas Kota Rembang Solo, ternyata datanglah suatu ujian. Tiba-tiba datanglah awan hitam yang menjadi momok menakutkan bagi para pilot.
Karena jarak antara awan dan pesawat sangat dekat, maka tak bisa di elakkan lagi tabrakapun terjadi. Walaupun sang kapten tahu bahwa ini pasti sangat membahayakan pesawat. Namun apapun yang terjadi tindakan ini harus di lakukan. Ternyata benar saja, setelah melewati awan itu mesin pesawat mati total. Segala antisipasi di coba, ternyata semuanya tidak berguna. Kini pesawat itu hanya melaju dengan kekuatan dorongan sisa.
Di tengah kondisi yang sangat kritis seperti itu sang kapten akhirnya sujud dan berdo’a meminta agar Allah memberikan bantuannya. Setelah sepuluh menit sujud akhirnya sang kapten bangkit dan secara mendadak dia mendapatkan ide agar melakukan pendaratan darurat. Terpikir dalam benaknya supaya mendaratkan pesawat itu di atas Sungai Bengawan Solo. Kebetulan saat itu musim kemarau, sehingga kondisi Sungai Bengawan Solo kering dan yang ada hanya hamparan pasir.
Sungguh merupakan suatu kemurahan Allah, ternyata di penghujung hamparan pasir yang luas itu terdapat gundukan pasir yang menggunung yang bisa menjadi rem bagi pesawat itu. Akhirnya pesawat itu berhenti sempurna tanpa masalah yang berarti. Hanya sedikit kecelakaan ringan yaitu pada saat pesawat menabrak gundukan pasir bagian ekor pesawat patah sehingga mengakibatkan salah satu pramugari terjatuh dan meninggal dunia. Akan tetapi semua penumpang selamat dan berhasil di amankan.
Dari sinilah akhirnya Sang Kapten Abdul Razak mengakui bahwa keahlian dan ilmu yang banyak tidak mampu menjamin keselamatan bagi sang pemiliknya kecuali karena kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Semoga penggalan kisah tadi akan menjadi renungan bagi kita agar kita tidak menjadi hamba yang sombong dan melupakan Allah. Hendaknya kita selalu menyadari bahwa semua yang terjadi di alam ini adalah kehendak dari Sang Maha Pencipta yaitu Allah Swt.
 


               




EmoticonEmoticon