Cukup dikatakan
sebagai kesombongan yang sangat besar jika seseorang hanya mengandalkan akal
dan ilmunya tanpa melibatkan Allah di dalamnya. Manusia boleh saja merassa
bangga terhadap apa yang ada pada dirinya. Misalnya ilmu dan keahlian yang di
miliki. Namun sebaiknya kita tetap saja harus mengikut sertakan Allah dalam
segala hal. Karena tanpa restu dari allah apapun yang kita lakukan akan sia-sia
belaka.
Bukankah kita
adalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Salah satu
bukti bahwa kita adalah makhluk yang lemah adalah ketidak berdayaan kita
menghadapi kehendak Allah seperti kematian. Adakah manusia yang mampu mencegah
datangngya ajal. Mampukah manusia mengatur rejekinya sendiri? Maka jawabannya
adalah tidak mungkin. Karena ajal, rejeki dan jodoh semuanya adalah rahasia Sang
Maha Kuasa. Tidak ada satu makhlukpun yang mampu mengetahuinya. Dan ketika itu
terjadi maka tiada satu makhlukpun yang mampu mencegahnya.
Ada sebuah kisah
menarik yang bisa kita jadikan pelajaran. Yaitu kisah tentang seorang pilot
yang bernama Kapten Abdul Razak. Dia adalah seorang penerbang senior yang telah
melanglang buana di dunia pesawat garuda air ways. Suatu ketika dia akan
menerbangkan Pesawat Garuda Air Ways dengan jumlah penumpang 150 orang. Dia
berangkat dari bandara Selaparan Mataram dan akan menuju bandara Adi Sumarmo
Solo.
Setelah di cek
semua kondisi ternyata normal. Cuacanya pun sangat mendukung sekali. Awan cerah
dan mesin pesawat juga masih dalam kondisi siap terbang. Maka setelah di
pastikan, terbanglah sang kapten bersama kru dan 150 penumpang. Pada mulanya
suasana terbang aman tanpa kendala apapun. Namun setelah tiga jam berjalan
sampailah pesawat di atas Kota Rembang Solo, ternyata datanglah suatu ujian.
Tiba-tiba datanglah awan hitam yang menjadi momok menakutkan bagi para pilot.
Karena jarak
antara awan dan pesawat sangat dekat, maka tak bisa di elakkan lagi tabrakapun
terjadi. Walaupun sang kapten tahu bahwa ini pasti sangat membahayakan pesawat.
Namun apapun yang terjadi tindakan ini harus di lakukan. Ternyata benar saja,
setelah melewati awan itu mesin pesawat mati total. Segala antisipasi di coba,
ternyata semuanya tidak berguna. Kini pesawat itu hanya melaju dengan kekuatan dorongan
sisa.
Di tengah
kondisi yang sangat kritis seperti itu sang kapten akhirnya sujud dan berdo’a
meminta agar Allah memberikan bantuannya. Setelah sepuluh menit sujud akhirnya
sang kapten bangkit dan secara mendadak dia mendapatkan ide agar melakukan pendaratan
darurat. Terpikir dalam benaknya supaya mendaratkan pesawat itu di atas Sungai
Bengawan Solo. Kebetulan saat itu musim kemarau, sehingga kondisi Sungai
Bengawan Solo kering dan yang ada hanya hamparan pasir.
Sungguh
merupakan suatu kemurahan Allah, ternyata di penghujung hamparan pasir yang
luas itu terdapat gundukan pasir yang menggunung yang bisa menjadi rem bagi
pesawat itu. Akhirnya pesawat itu berhenti sempurna tanpa masalah yang berarti.
Hanya sedikit kecelakaan ringan yaitu pada saat pesawat menabrak gundukan pasir
bagian ekor pesawat patah sehingga mengakibatkan salah satu pramugari terjatuh
dan meninggal dunia. Akan tetapi semua penumpang selamat dan berhasil di
amankan.
Dari sinilah
akhirnya Sang Kapten Abdul Razak mengakui bahwa keahlian dan ilmu yang banyak
tidak mampu menjamin keselamatan bagi sang pemiliknya kecuali karena kehendak
Allah Yang Maha Kuasa. Semoga penggalan kisah tadi akan menjadi renungan bagi
kita agar kita tidak menjadi hamba yang sombong dan melupakan Allah. Hendaknya
kita selalu menyadari bahwa semua yang terjadi di alam ini adalah kehendak dari
Sang Maha Pencipta yaitu Allah Swt.
EmoticonEmoticon